April 6, 2020

Awas! Indonesia Darurat HIV/AIDS Gara-Gara…

Betawipos.com, Jakarta – Dalam peringatan Hari AIDS Internasional 1 Desember 2019 ini, kabar mencemaskan datang dari Indonesia AIDS Coalition (IAC). Kabar itu menyebutkan bahwa Indonesia dinyatakan dalam kondisi Darurat AIDS. Pasalnya, stok obat Anti RetroViral (ARV) semakin menipis.

Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition mengatakan, dilihat dari data stok ARV yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, beberapa obat ARV sudah menunjukkan stok diambang kekurangan atau dalam kondisi “merah”. Hal itu dapat diartikan bahwa dalam jangka waktu 1 atau 2 bulan ke depan, ODHA selaku konsumen ARV akan kesulitan mendapatkan obat untuk memperlambat perkembangan virus mematikan tersebut lantaran kehabisan stok.

“IAC menilai respon pemerintah terkait pengadaan obat ARV ini dirasa kurang padahal dananya sudah tersedia dan bahkan beberapa obat sudah tercantum dalam E-Katalog,” katanya melalui rilis yang dikirim ke redaksi Betawipos, Minggu (1/12/2019)

Dari data Kementerian Kesehatan, stok ARV nasional per tanggal 22 November 2019, obat ARV jenis TLE (Tenovofir, Lamivudin, Zidovudine) hanya tersisa 290.908 botol saja untuk jumlah pasien yang dalam pengobatan sebanyak 48.981 ODHA. Sehingga, apabila dikalkulasikan stok tersebut hanya akan cukup untuk konsumsi 5,9 bulan ke depan. Padahal idealnya stok kecukupan ARV dikatakan dalam batas aman jika dapat menyuplai kebutuhan selama 9 bulan. Karena Indonesia masih mengimport beberapa obat ARV tersebut yang memerlukan waktu untuk pendistribusian ke pasien.

“Putus pengobatan ARV bagi ODHA akan memperburuk tingkat kesehatannya, bahkan bisa menemui kematian. Yang dikhawatirkan bila ODHA tersebut melakukan kegiatan beresiko, dia akan menularkan HIV kepada orang lain,” ujarnya.

Status “merah” tidak hanya ARV jenis TLE saja. Ada beberapa obat lain yang masuk dalam status serupa, yaitu Abacavir 300mg, Efavirenz 200mg, Liponavir/Ritonavir, Tenofovir 300mg dan Zidovudine Emtricitabine.  Yang terendah adalah obat ARV dari jenis Tenofovir 300 mg yang tersisa stock untuk 2,5 bulan dan dikonsumsi oleh 29.131 pasien dan obat ARV jenis kombinasi Tenofovir Emtricitabine yang lebih parah lagi hanya dapat bertahan selama 1,5 bulan untuk 5.238 pasien.

“Status stok obat-obatan tersebut semuanya tidak berada dalam batas aman. Dapat dipastikan, jika pengadaan obat tidak segera dilakukan secepatnya, mulai dari bulan Januari 2020 ribuan ODHA akan mengalami putus obat,” katanya.

Obat ARV merupakan satu-satunya metode terapi pengobatan yang telah terbukti dapat mempertahankan kondisi orang dengan HIV tetap berada dalam kondisi sehat seperti individu umumnya dan mencegah timbulnya fase AIDS. Dengan pengobatan ARV, epidemic HIV dapat dikendalikan. Orang dengan HIV yang meminum obat ARV secara teratur memiliki kondisi kesehatan yang tidak berbeda dengan orang sehat lainnya.

Selain itu, ARV juga terbukti mengurangi penularan ke orang lain karena ODHA dengan kepatuhan yang baik akan memiliki nilai Viral Load atau jumlah virus dalam tubuh hingga tingkat tidak terdeteksi dan tidak dapat menularkan virusnya pada orang lain.

Angka kasus HIV sampai bulan Oktober 2019 menunjukan bahwa dari estimasi 640.443 ODHA di Indonesia, hanya 368.239 ODHA yang mengetahui statusnya dan 124.813 penderita yang masih dalam pengobatan.

Angka insiden kasus baru HIV di Indonesia juga mengkhawatirkan. Tahun 2016 tercatat insiden kasus baru HIV sebanyak 48.000 kasus, di tahun 2017 sebanyak 49.000 kasus dan di 2018 sebanyak 46.000 kasus.

Dan angka kematian akibat AIDS sendiri juga sangat mengkhawatirkan. Di 2016 ada 38.000 ODHA meninggal dan 2017 sebanyak 39.000 ODHA yang meninggal dan untuk 2018 ada 38.000 ODHA meninggal.

Ini merupakan pertanda buruk penyebab kematian akibat AIDS di Indonesia yang bisa disejajarkan dengan angka kematian di beberapa negara di Afrika yaitu Uganda, South Africa dan Kenya. Di kedua negara itu, epidemi AIDS ini sudah dalam tataran meluas di kelompok masyarakat umum. Indonesia sudah memasuki phase darurat AIDS.

“Hari AIDS 1 Desember 2019 ini akan menjadi sebuah duka mendalam bagi ODHA di Indonesia sebab ini akan menjadi penentuan apakah hidup mereka masih akan bertahan di tahun depan jika melihat kondisi stock ARV yang sangat mengkuatirkan ini” pungkasnya. Red