April 6, 2020

Benarkah AS Tidak Transparan Soal Covid 19?

corona

Betawipos, Washington – Pandemi Virus Corona alias Covid 19 membuat geger dunia internasional. Betapa tidak, virus ini telah melumpuhkan banyak negara yang terpaksa menerapkan lockdown. Rupanya, Amerika Serikat tidak terbuka dan berusaha menutup-nutupi Kasus Corona ini.

Sebelum Kasus Wuhan, ternyata di Amerika sudah ada kasus Covid-19 yang terungkap di Parlemen negeri Paman Sam itu. Pada Kamis (12/03/2020) Direktur CDC (Pusat Pengontrolan dan Pencegahan Penyakit) AS, Robert Redfield mengaku bahwa beberapa orang AS yang kelihatannya meninggal akibat influenza ternyata pernah dites positif Covid-19. Pernyataan Redfield ini terungkap saat dirinya dicecar anggota parlemen saar dengar pendapat dengan Komite Pengawasan Parlemen Amerika sehari sebelumnya.

Menurutnya, sebelum kasus Wuhan merebak, sudah ada 8200 warga AS yang tewas akibat “influenza”. Inilah yang kemudian membuat Jubir Kementrian Luar Negeri China ‘ngomel-ngomel’. Melalui media sosialnya Redfield ngetweet: 

“CDS tertangkap basah. Kapan pasien nol [pertama] dimulai di AS? Berapa orang yang terinfeksi? Pasien no 1-nya dirawat dimana? Kemungkinan tentara AS yang membawa epidemi ini ke Wuhan. Transparanlah! Buka data publik Anda! AS harus memberi penjelasan kepada kami!” katanya seperti dikutip Betawipos.

Sayangnya, Presiden AS Donald Trump justru bersikeras mengatakan Covid 19 adalah “Chinese Virus” hingga membuat pernyataannya itu tidak mengenakkan bagi warga AS keturunan China.

“Ini sama sekali tidak rasis. Virus ini berasal dari China. Aku hanya ingin akurat,” kata Trump dalam konferensi pers hariannya.

Mereka menganggap ucapan Trump telah memicu perselisihan hingga pemerintah Tiongkok meradang. Alasannya, ucapan itu telah mencoret istilah klinis yang direkomendasikan profesional kesehatan, Covid-19 atau virus corona.

Selain itu, ucapan Trump juga berdampak pada konotasi negatif masyarakat terhadap etnis Cina di sana. Polisi New York menyebut, seorang pria bulan lalu mengejar dan memukul seorang wanita Asia yang memakai masker wajah saat berada di kereta bawah tanah. Pria itu mengatakan wanita itu sakit. Pada Kamis (19/03/2020), kelompok hak-hak sipil meluncurkan sebuah situs untuk orang AS keturunan Asia agar mereka dapat melaporkan kejahatan biasa terkait wabah virus corona untuk melihat seberapa luasnya masalah itu terjadi.

“Situs ini menerima 36 pengajuan aduan dalam 24 jam pertama,” ungkap Manjusha Kulkarni, Direktur Eksekutif Dewan Kebijakan dan Perencanaan Asia Pasifik.

Kulkarni juga mencontohkan insiden intimidasi di sekolah menengah di Los Angeles ketika seorang pelajar meninju teman sekelasnya yang keturunan Asia sebanyak 20 kali. Siswa itu menuduh temannya membawa virus corona dan memintanya untuk ‘kembali’ ke China. Kulkarni mengatakan, dia melihat kekerasan sebagai bagian dari sejarah yang luas di AS sejak yellow peril. Yellow peril adalah kecurigaan orang AS terhadap orang Asia yang memimpin AS pada 1882 dan melarang semua imigrasi dari China. Hal itu akan menjadi buruk kini sejak Trump dinilai ‘mempersenjatai’ kebencian warga AS terhadap mereka yang keturunan etnis Asia, khususnya China.

“Trump punya mimbar untuk lakukan bully. Hal itu membawa kekuatan besar. Orang-orang mendengarkannya,” ujarnya.

Sejak lama AS memiliki ketegangan dengan China dan Trump menyuarakan kemarahan terhadap seorang pejabat Beijing yang mempromosikan teori konspirasi tak berdasar bahwa militer AS membawa virus ke Wuhan. Di mana pusat wabah terjadi pertama kali di China. Kementerian Luar Negeri China menuduh Trump berusaha mengalihkan kesalahan atas tanggapannya sendiri terhadap wabah corona.

Frank H. Wu, seorang profesor di Fakultas Hukum Universitas Hastings California mengakui bahwa penyakit-penyakit telah lama diberi nama secara geografis dan dianggap adil untuk mengkritik tindakan pemerintah Beijing.

“Yang terpenting bukan maksudnya. Tapi konsekuensinya. Kata-kata ini penting, kraena ini adalah masa stres yang luar biasa,” ujar Wu. Penulis buku Yellow: Race in America be Black and White itu mengatakan, orang Asia-AS telah lama dikaitkan dengan kotoran, menunjuk pada persepsi kontemporer tentang restoran China. Menurutnya, kebersihan selalu menjadi metafora untuk kategori apakah seseorang dianggap layak secara moral, individu yang baik dan atau bagian dari komunitas yang baik. Jadi, ungkapan virus China itu tidak hanya menyangkut penyakit atau sumber penyakit. Tapi juga kebersihan, dan simbol lain yang lebih banyak. Sebagai contoh nyata dari asosiasi Orang AS-Asia dengan penyakit, pihak otoritas pada 1900 menutup kota pecinan di San Francisco dan Honolulu setelah wabah pes meluas.