April 6, 2020

Depresi Tak Terobati Sebabkan Bunuh Diri. Ini Solusinya

BETAWIPOS, Jakarta – Lebih dari 300 juta orang menderita depresi. Menurut data World Health Organization (WHO), angka tersebut mengalami peningkatan 18% antara 2005 hingga 2015.

Depresi yang tidak tertangani dengan baik dapat mengarah ke recurrent atau depresi berulang, sehingga jika kondisinya sudah berat dapat berakhir suicide. Direktur Rumah Sakit Sanatorium Dharmawangsa, dr.Richard Budiman, Sp.KJ(K) menyatakan Ansietas murni dan korelasinya dengan gangguan mental ini dapat diatasi salah satunya dengan antidepresan yang lebih optimal. Selain itu, penyakit kronis atau penyakit yang sulit disembuhkan sering disertai juga rasa nyeri tak tertahankan dan korelasinya erat dengan depresi dan anesietas.

“Sehingga untuk menangani ketiga masalah terkait depresi, ansietas dan nyeri dibutuhkan obat yang lebih efektif, yaitu obat antidepresan Duloxetine,” katanya seperti dikutip Betawipos, Jumat (22/11/2019).

Hal senada disampaikan Dr.dr.Diah Setia Utami Sp.KJ(K), MARS. Ketua PDSKJI periode 2019-2022. Dirinya menyatakan bahwa penyakit ini dapat diatasi dengan baik jika pengobatannya tepat.

“Terkait dengan pengalaman empiris beliau mengenai depresi paska putus zat juga merupakan kriteria dari jenis depresi yang dapat diobati dengan antidepresan, terutama depresi yang berkaitan dengan nyeri paska putus zat (Protected Withdrawal),” jelasnya.

Disampaikan pula oleh Ketua Umum PDSKJI, peran keluarga dan masyarakat dalam kepatuhan pengobatan pada depresi mempunyai kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas hidup penderita.

Sementara dr.Andri, Sp.KJ, FCLP (ahli psikosomatik) praktisi dan dokter di RS Omni Hospital BSD yang juga aktif sebagai Youtuber content kesehatan, menyatakan masalah depresi dapat mengarah ke tindakan suicide. Jika terjadi demikian maka hal tersebut lebih didominasi pada gejala sisa, gejala fisik atau nyeri dan ini seringkali tidak berhasil ditapiskan (screening) oleh dokter layanan primer atau dokter spesialis sekalipun sebelumnya.

“Seringkali pada tahapan pengobatan lebih diutamakan atau hanya fokus pada penuntasan gejala fisik, tapi gejala depresinya justru tidak ditangani dengan baik,” tuturnya.

Bahkan menurut data WHO 65% individu yang mengalami depresi dapat mengalami recurrent episode. Dimana golongan SSRI(SeIective Serotonin Reuptake Inhibitor) sekalipun tidak mampu memperbaiki ketidaktuntasan pengobatan yang telah dilakukan.

Mersifarma selaku perusahaan yang memang fokus pada produk kesehatan mental, Central Nerves System , internal medicine, saat ini telah menyediakan obat golongan antidepresan Duloxetine, yaitu DULOXTA® yang menjadi salah satu obat yang direkomendasikan oleh para dokter dan ahli terapis.

Dalam DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) tahapan atau tingkatan tindakan depresi beberapa diantaranya jika terlihat penurunan mood/suasana hati sepanjang hari selama 2 minggu, penurunan minat pada aktifitas, rasa salah yang berlebih, kelelahan/kehiIangan energi, insomnia/hypersomnia, penurunan kemampuan berfikir, sulit berkonsentrasi bahkan sampai memiliki keinginan mengakhiri hidup.

Beberapa tahun belakangan ini, banyak pihak yang mulai menyadari bahwa kesehatan mental emosional sangat penting untuk ditanggulangi secara medis, mengingat Hasil riset Kosehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 prevalensinya sudah mencapai 9.8% dan penduduk Indonesia.

Salah satu gangguan kesehatan mental emosional yang sering kita dengar atau kita temui langsung di lingkungan pertemanan atau bahkan sekitar keluarga kita yaitu: depresi dan Ansietas. Pada kenyataannya di Indonesia prevalensi diagnosis Depresi sebesar 6.1% dan sebanyak 91% nyaris tidak diobati, karena berbagai macam alasan. Tentunya gangguan depresi yang tidak ditangani dapat menyebabkan bunuh diri. Hampir 800 ribu orang di seluruh dunia meninggal karena bunuh diri setiap tahun.

WHO sendiri memberikan pernyataan bahwa gangguan depresi pada urutan keempat penyakit di dunia. Prevalensi gangguan depresi pada populasi dunia adalah 3-8% dengan 50% kasus terjadi pada usia produktif yaitu 20-50 tahun. Bunuh diri juga merupakan penyebab utama urutan kedua ancaman kematian pada remaja hingga dewasa (usia 15-29 tahun).

Sehingga penanggulangan masalah ini dan gangguan mental menjadi fokus utama baik dari PDSKJI, Mersifarma maupun RSJ Dharmawangsa dalam memberikan dan menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk Iebih menyadari bagaimana pentingnya mengatasi atau mengobati gangguan kesehatan mental .

RSJ Dharmawangsa, PDSKJI dan PT Mersifarma TM mengajak masyarakat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenal betapa pentlngnya terapi atau kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri sekaligus peluncuran DULOXTA® sebagal pilihan tepat baglli dokter dalam penanganan pada terapi depresi, cemas, nyeri kronik.