April 6, 2020

Gus Sholah: “Demo Bawaslu Bukan Gerakan Bela Islam”

Betawipos.com, Jakarta – Aksi penolakan hasil Pemilu 2019 di depan kantor Bawaslu, Jakarta Pusat dinilai bukan berasal dari Gerakan Bela Islam. Alasannya, kedua kontestan Pemilu Presiden sama-sama beragama Islam.

Penilaian itu disampaikan Pengasuh Pesantren Tebuireng Kabupaten Jombang Jawa Timur, KH Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah, dari rilis yang diterima Betawipos.com, Rabu (22/5/2019). Ia merasa prihatin atas insiden yang mencederai nilai-nilai demokrasi tersebut. Alasannya, pesta demokrasi secara konstitusional masih dipermasalahkan.

“Kita prihatin dengan suasana itu. Saya tidak tahu bagaimana mencegahnya. Cuma, bagaimana menstop dan menyelesaikan masalah ini semua,” kata Gus Sholah.

Adik mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ini juga menyinggung aktor intelektual di belakangnya. Hanya saja berita yang dia terima belum bisa dipastikan kebenarannya, apakah massa aksi ini digerakkan atau tidak. Ia berharap korban luka tidak bertambah.

“Karena tidak tahu siapa yang menggerakkan demo. Kita berharap tidak timbul korban lebih banyak lagi. Mudah-mudahan tidak ada korban banyak,” kata Gus Sholah.

Gus Sholah menyinggung peran penting para tokoh agama, kiai, dan masyarakat santri dalam mengatasi suhu sosial-politik yang memanas. Mereka memiliki otoritas keagamaan dan legitimasi moral untuk meredam gejolak social-politik atas nama agama.

“Untuk tokoh agama, kiai, dan santri, kita berusaha meredam, menenangkan masyarakat, agar tidak timbul banyak korban. Syukur bisa diatasi dan tidak sampai jauh,” kata Gus Sholah.

Dirinya menampik bahwa aksi demonstrasi di depan Bawaslu ini sebagai Gerakan Aksi Bela Islam. Meski massa yang datang berbusana muslim dan berkopiah namun aksi tersebut bukan terkait persoalan agama.

“Ini nggak ada kaitan dengan bela Islam. Peserta pemilu keduanya Islam. Kiai Makruf kurang Islam apa? Jadi, ini nggak ada hubungan dengan agama. Ini hanya soal ketidakpuasan terhadap hasil pilpres 2019,” kata Gus Sholah.

Ia berharap para pakar juga turut menyumbangkan saran dan bergerak cepat dalam mengatasi kericuhan di Bawaslu. Menurutnya, kalangan intelektual di kampus, pesantren, dan lembaga penelitian dapat berkontribusi menyelesaikan persoalan ini.

“Kan banyak orang pandai di Indonesia, di kampus, dan lain-lain. Mungkin mereka bisa menjadi penengah. Tidak perlu banyak, mungkin 10 atau belasan orang cukup. Masalah ini harus ada yang menengahi,” kata Gus Sholah.

Gus Sholah mengimbau pemerintah dan aparat keamanan agar mereka mengutamakan pendekatan profesional. Namun demikian, aparat keamanan bisa mengutamakan pendekatan yang manusiawi agar tidak ada lagi korban.

“Jangan sampai ada korban lagi. Sampai sekarang korbannya belum diketahui berapa banyak. Harus distop korban lagi,” kata Gus Sholah.

Dirinya mendukung kerja kepolisian dan aparat keamanan dan mengingatkan mereka untuk mengambil sikap waspada karena tingkat kebencian sekelompok demonstran sudah sangat tinggi.

“Polisi harus hati-hati karena sikap tidak suka terhadap polisi sangat tinggi,” kata Gus Sholah.

Gus Sholah juga mengajak masyarakat ibukota untuk menjaga keamanan di wilayahnya masing-masing. Pasalnya, demonstrasi kekecewaan atas hasil pemilu 2019 terpusat di Jakarta.

“Kalau masyarakat kalau tidak perlu nggak usah keluar rumah. Cuma yang demo ini kan memang mereka yang punya tujuan demo. Bahkan ada yang bilang bahwa yang demo dari luar Jakarta,” kata Gus Sholah. Red