Jero Puspawati, Penari Bali Legendaris. Pernah ‘Dekat’ Dengan Soekarno?

Betawipos, Denpasar – Mungkin jaman sekarang tak banyak yang mengenal Jero Puspawati, sosok perempuan berusia 88 tahun ini. Dia adalah legenda Penari Bali yang pernah malang melintang di berbagai belahan dunia. Sosok yang sangat dekat dengan lingkungan istana negara di era pemerintahan Presiden Soekarno dulu. Lantas bagaimana sepak terjang beliau dalam berkesenian kala itu?

Jika mendengar nama Pulau Bali, pikiran kita selalu tertuju pada tempat wisata nan indah, pantai-pantai nan mengasyikan untuk berlibur, dan tentu saja… kecantikan penarinya. Ya, sosok Penari Bali selalu dilukiskan sebagai gadis cantik dengan lenggokan pinggul yang sensual. Sosok yang kerap menjadi daya tarik para wisatawan baik mancanegara maupun domestik untuk berbondong-bondong ke pulau para dewa ini.

“Sejak tahun 50-an saya sering diundang menari sama pak Karno. Dia selalu menyuruh saya menari. Saya disayang. Kalo di rumahnya saya dianter, ini kamar mandi, ini tempat tidur,” kenangnya.

Seperti yang dituturkan Jero Made Puspawati, Legenda Tari Bali yang dijumpai Betawipos di kediamannya, Puri Satria, Jalan Veteran Denpasar. Meski kondisi fisiknya sudah tak memungkinkan untuk menari, ibunda Menteri UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga ini tetap bersemangat untuk melestarikan budaya Bali yang satu ini. Ia tak lagi mampu melenggak-lenggokkan pinggulnya setelah terjatuh saat mengajar tari di kediamannya, 10 tahun silam.

“Saya waktu itu mengajar di Puri, pas naik ke atas saya jatuh. Ini tulang kaki saya diganti, ndak bisa jalan,” katanya dengan logat Bali yang masih kental.

Gurat-gurat renta di wajah Puspawati masih menyisakan kecantikan masa mudanya. Wanita kelahiran 1932 ini tak ingin lelah menceritakan betapa perjalanannya di dunia seni telah membawanya bertemu dengan tokoh utama negeri ini, Ir. Soekarno. Mulai menari tahun 1945, awalnya ia tidak memiliki keistimewaan apa-apa secara ekonomi.

Sehari-hari Puspawati membantu ibunya berjualan di warung, atau membantu ayahnya di sawah mengusir burung-burung pemakan padi. Beliau juga pernah berjualan tuak untuk tukang panen. Bayarannya bukan uang tapi padi. Sering kelompok pemanen menyuruh Jero Puspa pulang agar kulitnya tetap putih mulus.

“Jangan berjemur di sawah nanti kulitnya hitam. Penari yang kulitnya hitam tak menarik,” katanya menirukan ucapan para petani kala itu.

Seiring berjalannya waktu, Jero Puspa tumbuh menjadi kembang desa yang cantik jelita. Warga desa memujanya sebagai penari. Terlahir dengan nama Ni Made Rupowati, lahir di Banjar Tegeh Kori Tonja, Denpasar. Merupakan anak kedua dari lima bersaudara, pasangan Nyoman Runtung dan Desak Kerenteng. Ayahnya guru SD sedangkan Ibunya penari Janger. Kakek dari garis ibu adalah pelatih Janger dan Arja terkenal dari Praupan, Denpasar. Ibu beliau juga ikut menari Janger. Jika ditelusuri, darah seni dalam tubuhnya berasal dari kakek dan ibu kandungnya. Dari lima saudaranya, hanya tiga termasuk dirinya yang menjadi penari.

“Dulu saya diambil (dinikahi) sama Tjokorda Bagus Sayoga. Dulu Ratu dia di sini. Trus nama Rupawati diganti menjadi Jero Made Puspawati, tahun 1955,” papar Puspawati.

Uniknya, meski orangtua dan kakeknya adalah penari, Puspa justru memperdalam tari dari orang lain, Wayan Rindi. Ia adalah guru tari asal Banjar Lebah, Denpasar. Tiap hari Wayan Rindi mengayuh sepeda ke Tegeh Kori untuk melatihnya bersama tiga murid putri lainnya di desa itu.
Perjuangannya bergelut di dunia tari akhirnya membawa Puspawati bertemu Presiden Soekarno. Ia sering mengundangnya ke Istana Negara. Kecintaan Bung Karno padanya itu ditunjukkan dengan sikap dan perlakuan yang tulus padanya. Ia diantar berkeliling istana.

“Sejak tahun 50-an saya sering diundang menari sama pak Karno. Dia selalu menyuruh saya menari. Saya disayang. Kalo di rumahnya saya dianter, ini kamar mandi, ini tempat tidur,” kenangnya.

Tak berhenti sampai di situ, Puspawati kerap diminta menari di berbagai belahan dunia seperti Brunei Darussalam, Pakistan, hingga belahan Eropa lainnya. Puspawati kian bangga dengan ketertarikan anak-anak dan warga asing yang ingin mempelajari segala macam tari-tarian Bali. Dirinya sangat bergairah mengajar rutin mingguan anak-anak dan murid-murid dari luar negeri di kediamannya.

Selain itu, sesekali ada juga undangan manggung dalam acara khusus di televisi, atau mengisi acara kehormatan bersama seniman tua lainnya. Terkadang dirinya bergabung dengan duta kesenian di luar negeri. Puspawati masih ingat lawatan terakhirnya ke luar negeri.

“Saya terakhir ke luar negeri pada Mei 2010 untuk menari di Belanda. Kalau ndak jatuh saya pasti disuruh menari di Belanda,” ujarnya.

Tari Pangaksama (penyambutan) merupakan tari yang digunakan sebagai dasar, lalu dilanjutkan dengan tari Panji Semirang. Pada tahapan berikutnya, seorang penari harus meningkatkan kemampuannya dengan tari klasik seperti Condong dan Legong Keraton. Program latihan diatur sedemikian rupa dari yang mudah sampai yang sulit. Jero Puspa mengenang betapa beratnya latihan menari pada waktu lampau, untuk belajar nyeledet (melirik) saja memerlukan waktu sebulan. Untuk belajar melemaskan tubuh, para penari harus mengikuti latihan fisik seperti tiarap dan mendongak di pasir. Latihan-latihan biasa dilakukan di balai masyarakat.

“Untuk latihan fisik, kami diajak ke sungai yang ada pasimya. Selama mengikuti latihan, kami senang menonton pertunjukkan untuk memperdalam kemampuannya,” kata Puspawati.

Proses latihan berlangsung lama sekali, sekitar tujuh tahun. Menurut ingatan Jero Puspa, pada usia 17 tahun, barulah Puspawati dan kawan-kawannya bisa pentas perdana (nyisiang). Ada mitos atau kepercayaan yang mesti dipatuhi menjelang pentas perdana. Sehari sebelum pentas perdana, penari dilarang keluar perempatan jalan yang pada jaman dahulu merupakan penanda batas desa. Melewati batas desa dianggap sudah pergi terlalu jauh. Jika dilanggar, sang penari bisa terkena musibah, kesurupan atau diserbu kawanan kodok yang masuk melalui pekarangan. Bahkan tak jarang terjadi keributan pada waktu latihan.

Jero Puspa hampir saja melanggar mitos ini ketika bersama kawan-kawannya hendak pergi ke Tanggun Titi, desa sebelah untuk menonton latihan menari.

“Saya ingat suatu hari pukul 4 sore. Untung orangtua cepat-cepat mengingatkan agar tidak pergi,” katanya.

Berkat kepatuhannya itulah, pentas perdana Puspawati sukses besar. Mulailah dia mendapat undangan untuk menari di luar desa, seperti di Sanur, Kayumas, bahkan luar kabupaten seperti Gianyar, Klungkung dan Tabanan. Karirnya kian moncer hingga membawanya ke Jakarta dan luar negeri seperti Singapura, Sri Lanka, Pakistan dan banyak negara lainnya. Meski demikian, sesekali ia juga menerima pementasan lokal untuk mengiringi upacara adat atau hiburan biasa. SDK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *