Sat. Mar 28th, 2020

Kampanyekan Keberagaman, Warga Depok Gelar Napak Tilas Sejarah

Komunitas Masyarakat Sipil Kota Depok siap menyukseskan kampanye keberagaman

BETAWIPOS.COM, Depok – Dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI ke -74, Komunitas Masyarakat Sipil Kota Depok menggelar Jalan-Jalan Sejarah Keberagaman Depok Tempo Doeloe.

Berdasarkan rilis yang diterima redaksi Betawipos.com acara akan digelar Sabtu (24/8/19). Diharapkan, masyarakat terutama generasi muda bisa memahami sejarah Kota Depok yang multikultural dan beragam.

“Keberagaman and toleransi merupakan kekayaan Kota Depok yang patut kita rayakan,” ungkap Koordinator #DepokBeragam, Nor Hiqmah di Depok, Rabu (14/8/19).

Acara jalan-jalan sejarah ini sendiri terbuka untuk umum. Para peserta akan diajak menelusuri situs-situs bersejarah di Kota Depok. Situs-situs bersejarah itu seperti Rumah Pondok Cina, Gedung Gemeente Bestuur (Kotapraja), Paal Gedachtenis Aan Chastelein atau Tugu Chastelin. Selain itu peserta juga diajak mengunjungi Rumah Presiden Depok, Depoksch Europesche School, Depoksch Kerk, hingga Stichting Cornelis Chastelein.

Sejarah awal Depok terkait dengan perdagangan Kerajaan Sunda di pedalaman Jawa bagian barat dengan kota bandarnya, Sunda Kelapa. Perdagangan ini memanfaatkan jalur sungai, yaitu Ciliwung. Depok berada di bagian tengah Ciliwung dan menjadi tempat transit para pedagang Cina. Karena itulah, Pejabat VOC Cornelis Chastelein membeli tanah di Depok dan menemukan kehidupan masyarakat lokal dengan orang-orang Cina. Ia membeli tanah Depok secara bertahap pada tahun 1696. Saat itulah Chastelein menambah keberagaman di Depok dengan membawa sekitar 150 pekerjanya yang mayoritas dari Makassar dan Bali. Upaya itu untuk memulai idenya membangun komunitas pribumi yang religius dan cerdas dalam mengelola kekayaan alam secara mandiri. Dari sinilah interaksi sosial dan budaya antarkelompok berbeda suku, bangsa, dan agama menguat serta menjadikan Depok sebagai kota yang multikultural. Identitas Depok yang multikultural inilah yang sebaiknya terus diingat dan dirawat oleh generasi muda.

“Jalan-jalan sejarah Keberagaman Depok Tempo Doeloe ini dibuat untuk sama-sama pulang ke rumah sejarah. Sehingga kita insyaf tentang Depok yang beragam sejak zaman baheula,” ujar Sejarahwan JJ Rizal di tempat terpisah.

Rizal menyebut, sejarah menunjukkan bahwa keberagaman Kota Depok bukan sekadar ditunjukkan dengan kehadiran orang atau kelompok dari berbagai latar belakang etnis dan agama, tapi juga dari upaya kelompok-kelompok yang berbeda tersebut untuk berbagi nilai terbaik mereka guna membentuk kebudayaan bersama.

Kampanye keberagaman Kota Depok ini melibatkan sejumlah organisasi masyarakat sipil di Depok, diantaranya Public Research & Advocacy Center (Pirac), Jaringan Gusdurian Depok, Komunitas Sejarah Depok (KSD), Komunitas Tanah Baru, Komunitas Bambu, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, INklusif, Gerakan Indonesia Kita (Gita), Search for Common Ground (SFCG), dan lain-lain.

Bagi yang tertarik untuk mengikuti acara ini bisa menghubungi panitia acara di nomor 081291651819/085694771533/0818809768. Peserta diminta memberikan kontribusi sebesar Rp 150.000 dan sebagai gantinya mereka akan mendapatkan T-shirt, buku materi situs sejarah Kota Depok, snack, dan lain-lain. Khusus untuk pelajar Depok bisa mendaftar gratis. Sedangkan untuk komunitas atau kolektif akan ada diskon khusus jika bisa mengajak minimal 10 peserta.

Menurut Hiqmah, selain acara jalan-jalan sejarah, masyarakat sipil Kota Depok yang tergabung dalam gerakan kampanye #DepokBeragam ini juga akan menggelar serangkaian acara lainnya, mulai dari acara festival keberagaman yang akan menampilkan pertunjukan dan budaya Depok hingga acara diskusi publik untuk membahas kebijakan yang semestinya bisa mengakomodir Depok sebagai kota multikultural.***