Kontroversi Makam Joko Tingkir. Mana Yang Benar?

Betawipos, Lamongan – Kontroversi makam Joko Tingkir seolah mengingatkan kita pada sosok pendekar Betawi, Si Pitung. Makam Joko Tingkir juga diyakini lebih dari satu dan tersebar di beberapa daerah.

Tiga Makam yang salah satunya diyakini Joko Tingkir di Lamongan

Setelah ratusan tahun kematian Joko Tingkir muncul beberapa makam yang konon diyakini makam sang tokoh. Setidaknya hingga kini ada 3 makam yang dipercaya masyarakat sebagai makam sosok bernama Sultan Hadiwijaya itu. Satu makam di Kota Gede, satunya lagi di Desa Butuh, Kecamatan Plupuh, Sragen dan satu lagi di pringgoboyo Lamongan. Terlihat tidak masuk akal memang, tapi itulah yang terjadi.

Di Desa Butuh, makam Sultan Hadiwijaya itu berada di kompleks pemakaman di tengah hutan, sekitar 10 kilometer arah timur laut Kota Solo. Jalan menuju ke pemakaman itu tidak terlalu bagus karena berlubang-lubang dan sempit sekitar tiga hingga empat kilometer dari kompleks pemakaman.

Cungkup tempat makam Joko Tingkir

Ada juga cerita bahwa makam tersebut ada di Dusun Dukoh, Desa Pringgoboyo, Maduran, Lamongan, Jawa Timur. Di Lamongan, makam legenda satu ini dikenal dengan Mbah Anggungboyo.

Muslik, sang juru kunci makam Mbah Anggungboyo atau Joko Tingkir di Lamongan menyebut jika dirinya sering menghabiskan waktu di gubuk kecil dekat makam itu.

Ia bercerita bahwa seorang tokoh besar negeri ini, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pernah berkunjung ke makam itu. Tokoh itu diantar Kiai Midkhol, seorang kiai asli Lamongan dari Desa Pringgoboyo, pada 1996.

“Kiai Midkhol bahkan sempat mendatangkan sejarahwan dari luar negeri dan kerja sama dengan Bupati Lamongan kala itu untuk ngelacak kebenaran makam Joko Tingkir,” tuturnya pada Betawipos.

Pada Februari 1999, Muslik langsung bertemu dengan Gus Dur. Ia sempat menanyakan keberadaan makam Joko Tingkir yang sebenarnya. Namun, tokoh itu enggan menjawab. Ia akhirnya meminta doa dan izin ke untuk membangun masjid di sebelah makam.

Pohon asem keramat yang berada di sekitar pemakaman

Di sebelah makam terdapat pohon yang oleh warga sekitar disebut dandu dan pohon asam yang begitu besar kurang lebih memiliki tinggi 50 meter dengan diameter kurang lebih 2 meter.

“Pohon asam itu memiliki makna ‘a’ artinya tidak dan ‘sem’ artinya sempurna, jadi tidak ada orang yang sempurna. Begitu juga dengan pohon dandu yang memiliki makna ‘dan’ artinya kata sambung dan ‘du’ artinya duduk-duduk, jadi kita itu perlu duduk-duduk dan saling sharing untuk mencari ilmu,” paparnya.

Keberadaan makam Joko Tingkir di Lamongan ini jugalah yang menjadi kebanggaan warga setempat akan kedigdayaan sang tokoh. Karena itu jugalah, klub sepakbola Persela Lamongan juga dijuluki laskar Joko Tingkir. Tentu saja sebutan itu diyakini mampu mengobarkan semangat juang para pemainnya di lapangan.

Demikian sekilas mengenai keberadaan makam Jaka Tingkir yang berada di beberapa tempat, tapi itu semua adalah tempat atau tetenger yang lebih menceritakan bahwa dulu pernah ada sosok pahlawan/guru/auliya yang berjuang mensiarkan Islam. Untuk mana yang benar kita kembalikan pada keyakinan kita masing-masing. (Berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *