Nyi Ageng Serang, Pejuang Wanita Tangguh Hingga Akhir Hayatnya

Betawipos, Kulon Progo – Nyi Ageng Serang merupakan salah satu sosok pejuang tanah air yang hingga akhir hayatnya tak mampu ditundukkan penjajah Belanda. Beliaulah yang mempelopori strategi perang menggunakan daun talas untuk mengelabui lawan.

Berkunjung ke kompleks pemakamannya, Betawipos disuguhi pemandangan yang teduh dipayungi pepohonan di sekitarnya. Sementara kompleks pemakaman beliau dipagari tembok bercat hijau di sekelilingnya.

Prasasti menandai bagian depan kompleks makam Nyi Ageng Serang, sosok pejuang tangguh yang sulit ditundukkan penjajah Belanda

Dari penelusuran redaksi menyebut, beliau dilahirkan di Serang, Purwodadi, Jawa Tengah pada 1752 dengan nama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. RA Kustiyah adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan anak Pangeran Ronggo Natapraja alias Panembahan Ageng Serang, penguasa wilayah terpencil Mataram yang sekarang menjadi wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Setelah ayahnya wafat Nyi Ageng menggantikan posisi ayahnya.

Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan Kanjeng Sunan Kalijaga, dari trah Panembahan Hadi yang berkedudukan di Kadilangu Demak. Ia juga mempunyai keturunan seorang Pahlawan nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara.

Makam Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng bersama sang ayah dan kakaknya (Kyai Ageng Serang) termasuk pemberontak-pemberontak yang merobek Perjanjian Gianti (13-02-1755) dan meneruskan perlawanan bersenjata terhadap Belanda. Belanda menyergap pasukannya di Semarang. Ayah dan saudaranya gugur dalam pertempuran.

Ketika pecah perang Diponegoro pada tahun 1825, beliau kehilangan suaminya yang tewas dalam pertempuran. Nyi Ageng kemudian meneruskan perjuangan, dan meskipun sudah lanjut usianya, ketika itu berumur 73 tahun, mendapat kepercayaan memimpin pasukan. Pasukannya membawa Panji “Gula Kelapa” (warna Merah Putih) di daerah Jawa Tengah bagian timur-laut.

Ia dalam pertempuran memprakarsai penggunaan daun Talas sebagai taktik penyamaran. Dua tahun sebelum Perang Diponegoro berakhir, yakni pada 1828 Nyi Ageng meninggal dunia di Yogyakarta karena jatuh sakit. Kemungkinan, penyebab meninggalnya karena serangan wabah penyakit malaria sebagaimana penyakit yang banyak merenggut nyawa para prajuritnya. Wabah malaria jugalah yang banyak merenggut nyawa para prajurit opas Belanda di sepanjang pegunungan Menoreh.

Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Namanya sebagai Pahlawan nasional hampir terlupakan karena tak sepopuler R.A. Kartini atau Cut Nyak Dhie. Tapi beliau sangat berjasa bagi negeri ini.

Selanjutnya, perjuangan Nyi Ageng dilanjutkan cucunya yang bernama Raden Mas Papak yang bergabung dengan laskar Menoreh pimpinan Raden Mas Singlon. RM Singlon merupakan salah satu putra Pangeran Diponegoro yang bergelar Pangeran Menoreh.

Nyi Ageng Serang, Pangeran Adi Suryo dan Pangeran Somo Negoro memimpin perlawanan di daerah pegunungan Menoreh, Kadipaten Adi Karto serta daerah Kadipaten Kulon Progo. Pangeran Joyo Kusumo memimpin perlawanan di daerah Kokap pegunungan Menoreh bersama Raden Mas Leksono Dewo (Ki Sodewo) di daerah mata air Sendang Clereng dan sekitar wilayah Serang Pengasih yang merupakan wilayah Kadipaten Adi Karto. Tok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *