Kasteel Batavia

BETAWIPOS, Jakarta – Batavia, nama yang muncul setelah Jayakarta dikuasai Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Setelah berhasil menancapkan cakarnya di Jayakarta, VOC pun membangun pemukiman baru. Tak hanya membangun kota, VOC pun membuat benteng untuk mengganti benteng lama guna menampung semua kegiatan dan aktivitas dagang kongsi dagang asal Belanda itu. Benteng buatan VOC ini kemudian disebut Kasteel Batavia.

Dalam Insiklopedia Jakarta disebutkan, bila benteng atau kastil Batavia ini dibangun pada 12 Maret 1619. Dulunya lokasi kastil berada di tepi Kali Ciliwung dan difungsikan sebagai pusat pemerintahan VOC di Batavia. Tak hanya itu, Kasteel van Batavia juga dipergunakan untuk pergudangan, perkantoran dagang, dan perbendaharaan. Bahkan bangunan itu juga menjadi hunian dan kantor pejabat tinggi pemerintah VOC. Kastil ini bentuknya seperti benteng pertahanan, sehingga bangunan-bangunan yang ada di dalamnya dikelilingi benteng. Kasteel inilah yang kelak menjadi simbol masa perjalanan awal penancapan tonggak kekuasaan VOC pertama di Nusantara, terutama Pulau Jawa. VOC menjadikan tempat ini untuk pertemuan ketika para Raja Jawa menerima penghormatan VOC.

Sejarah awal Kasteel Batavia dimulai ketika Pelabuhan Jayakarta berhasil dikuasai oleh VOC pada 30 Mei 1619. Kota Jayakarta kemudian oleh Jan Pieterszoon Coen digantinya namanya menjadi Batavia. Nama Batavia digunakan lantaran penduduk Jayakarta kebanyakan adalah suku Betawi yang susah dilafalkan oleh Belanda.

Kemudian VOC pun mulai membangun pemukiman baru di atas reruntuhan Kota Jayakarta. Sebelum membangun kota Batavia, J.P. Coen membangun benteng pertahanan yang kemdian dinamakan Kasteel van Batavia. Benteng baru buatan Belanda ini dibangun untuk mengganti benteng (fort) Jacatra yang sudah tidak mampu menampung seluruh aktivitas perdagangan VOC. Menurut catatan yang didapat Betawipos, luas kastil ini berkisar sembilan kali luas benteng Jacatra. Bentuk kastil seperti segiempat dengan panjang dari pintu daratan (landpoort) ke pintu air (waterpoort) 290 treden, sedangkan lebarnya dari dinding barat ke dinding timur 274 treden.[2]

Benteng markas VOC ini dilengkapi empat bastion (kubu pengintaian) yang ada disetiap sudut benteng. Bastion pengintaian ini ada yang diberi nama Parrel(barat laut), Saphier (timurlaut), Robijn (tenggara) dan Diamant(barat daya). Keempat bastion pengintaian ini dihubungkan oleh dinding yang terbilang tinggi terbuat dari batu karang dan koral yang disebut courtine atau gordijn. Pada keempat kubu pengintaian itu ditempatkan meriam dan pasukan untuk menjaga kediaman para pejabat tinggi VOC berikut barang berharga lainnya.

Bila melihat peta lama menggambarkan situasi Kastil Batavia pada 1619, tampak bila dinding barat Kastil berdampingan dengan dinding benteng lama, fort Jacatra. Sedangkan bastion Saphier dan Robijn masih terlihat menjorok keluar. Terdapat dua buah pintu masuk Kasteel Batavia, yaitu gerbang daratan (landpoort), pada sisi selatan dan gerbang air (waterpoort) di sisi utara menghadap ke laut. Tak sampai di situ, bagian dalam kasteel yang tegak lurus dengan gerbang daratan (landpoort) terdapat pintu masuk yang disebut gerbang pinang (pinangpoort). Di dalam kasteel Batavia terdapat beberapa bangunan, seperti  gubernemen, gedung pengadilan, loji, gereja, kamar senjata, kamar pakaian, gudang manufaktur dan toko obat.

Sementara di luar kasteel terdapat dua buah gerbang. Kedua gerbang itu adalah gerbang kolam (Vijverpoort) yang lokasinya ada di ujung bastion Parel dan gerbang Delft (Delftschepoort) di ujung bastion Rabijn. Sedangkan di sebelah barat kasteel, antara bastion Parrel dan Diamant terdapat rumah peristirahatan (Speelhuisje) gubernur jenderal. Kasteel van Batavia ini dikelilingi oleh parit (grachten) yang berfungsi sebagai sarana pertahanan. Menurut peta karya F. Otten, menggambarkan situasi Kasteel Batavia pada 1629. Pada peta itu, terlihat bila Kasteel Batavia dipersenjatai dengan beberapa meriam berat yang ditempatkan di atas bastion maupun di luar kasteel yang diarahkan ke seluruh penjuru. Sementara di sebelah utara dan barat Kasteel Batavia terdapat pagar rapat yang terbuat dari kayu. Pagar kayu ini berfungsi untuk sarana pertahanan.

Pada 1760, jumlah warga kastil ini sekitar 16 ribu jiwa. Namun, pada 1778 hanya tinggal 2 ribu orang. Pada 1790, jumlah penduduknya meningkat lagi menjadi 8 ribu jiwa. Menyusutnya jumlah penduduk kasteel Batavia ini disebabkan munculnya wabah penyakit yang menelan banyak korban. Selama kurang lebih 30 tahun sejak tahun 1760, daerah sekitar Kasteel Batavia benar-benar menjadi kota maut yang makin lama makin banyak ditinggalkan penghuninya sehingga banyak rumah kosong yang berhantu.

Sejarah Kastil Batavia berhenti saat Daendels menghancurkannya pada 1809. Kota baru yang lebih ke selatan kembali dibangun, kota ini dibatasi dengan Kali Ciliwung yang masih berkelok-kelok dan kanal. Kubu pertahanan pun kembali dibangun, di sini ada Fort Gelderland dan Fort Holandia. Kalau mau disebutkan, nama-nama benteng atau kubu pertahanan seperti Vianen, Zeeland, Bastion Amsterdam, Middelburg, Oranje. Belum lagi Bastion Culemborg dengan Uitkijk (Menara Syahbandar) dan Bastion Zeeburg. (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *