April 6, 2020

Sejarah Suku Samin di Blora

Betawipos, Blora – Munculnya gerakan atau ajaran Suku Samin diawali oleh tokoh lokal yg bernama Samin Surosentiko (Blora, 1859 – Padang, 1914) atau Samin, bernama asli Raden Kohar. Beliau adalah pelopor Ajaran Samin (Saminisme).

Samin Surosentiko lahir pada 1859 dengan nama Raden Kohar di Ploso Kedhiren, Randublatung, Blora Jawa Tengah. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau Samin Sepuh. Ia mengubah namanya menjadi Samin Surosentiko sebab Samin adalah sebuah nama yang bernafaskan wong cilik. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan Brotodiningrat dengan gelar pangeran Kusumaniayu yang berkuasa di Kabupaten Sumoroto (kini menjadi sebuah kecamatan di Kabupaten ponorogo) pada tahun 1802 – 1826.

Tokoh Samin Surosentika, adalah pendiri dan pelopor Ajaran Samin Surosentikoin yang disebut juga Saminisme. Ajaran saminisme ini mula-mula tidak dilarang oleh Pemerintah kolonial Belanda. Namun ketika pengikutnya bertambah banyak dan Samin diangkat oleh pengikutnya sebagai RATU ADIL dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam pada tanggal 08 November 1907, maka pemerintah Belanda menjadi was-was sehingga ajaran Samin Surosentiko mulai diawasi. Hingga pada akhirnya beliau ditangkap dan dibuang ke luar Jawa bersama delapan orang pengikutnya.

Suku samin mulai dikenal banyak orang setelah menggegerkan rakyat karena keluguan dan kejujuran yang bisa dibilang di atas rata-rata. Menolak modernisasi, teknologi bahkan mata uang sebagai alat jual beli. Apa yang mereka tanam adalah apa yang mereka makan. Apa yang mereka dapatkan
adalah apa yang mereka nantikan.

Suku Samin ini telah ada sejak ratusan tahun jauh sebelum Indonesia merdeka. Sifatnya yang jujur dan bijaksana ini dianggap membelot oleh bangsa Belanda.

“Mengapa saat itu Wong Samin menolak membayar pajak pada Belanda dan Jepang?” “Måså pajek sing dibayar pribumi tapi duité digåwå låndå. Yå kebacut jenengé. (Masa pajak yang dibayar pribumi, tetapi uangnya dibawa Belanda. Ya itu keterlaluan namanya),” jawab Hardjo Kardi, menggunakan bahasa Jawa. Hardjo, seperti dikutip Betawipos, merupakan generasi keempat yang berusia 82 tahun, dari keturunan Suro Sentiko, pendiri Samin, asal Randublatung, Blora, Jawa Tengah (Jateng).

Samin Surosentiko wafat dalam pengasingan (ia diasingkan oleh Belanda) di kota Padang, Sumatera Barat pada tahun 1914. Dan makam beliau juga ada disana. Red