Si Doel (Bukan) Anak Betawi

Betawipos, Jakarta – Cerita tentang Si Doel, anak Betawi pernah mencapai masa kejayaannya berkat sinetron besutan mantan artis Rano Karno. Dalam sinetron itu, sosok bernama Doel ini benar-benar mempresentasikan kehidupan masyarakat Betawi. Meski pengamat budaya JJ Rizal pernah menyebut versi film Si Doel Anak Betawi mendobrak stigma dan citra orang Betawi, namun tetap saja Si Doel dan Betawi tidak bisa dipisahkan.

Kisah Si Doel ini dimulai pada 1932 melalui sebuah novel bertajuk Si Doel Anak Betawi hingga dalam versi sinetron dan film yang modern ternyata memiliki pengaruh pada kebudayaan Betawi.

Pengamat budaya Betawi JJ Rizal menilai bahwa kehadiran karakter Doel sejatinya mendobrak stigma akan citra orang Betawi yang hanya bermodal otot belaka.

“Pengaruh kisah si Doel yang penting dicatat adalah, ketika hadir, telah memberi perspektif baru atas stereotipe yang sedang marak dibuat dalam aneka media dari cetak sampai layar lebar: bahwa orang Betawi itu identik dengan jagoan main otot saja, pemalas yang terbelakang, dan mengandalkan hidup hanya dari jual tanah,” kata Rizal dikutip dari CNNIndonesia, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, Pencipta tokoh “Si Doel Anak Betawi” justru terlupakan oleh sosok Rano Karno sendiri. Mungkin karena sang pencipta legenda Betawi justru bukan orang Betawi. Mungkin lho ya… Banyak yang tak mengenal bahwa tokoh legenda Betawi “Si Doel” diciptakan oleh orang berdarah Minangkabau.

Aman Datuk Madjoindo adalah novelis dan pengarang cerita anak-anak yang asli berdarah Minang. Dikutip dari ensiklopedia Kemdikbud, ia lahir di Supayang, Solok, Sumatra Barat tahun 1896 dan meninggal di Surukan, Solok, Sumatra Barat tanggal 6 Desember 1969.

Salah satu karyanya berjudul Si Doel Anak Betawi. Cerita ini pada tahun 1970-an diangkat ke layar putih oleh Sjumandjaja yang kemudian dijadikan dasar cerita sinetron pada dasawarsa 1990 di RCTI dengan judul “Si Doel Anak Sekolahan seri I sampai seri IV.”

Semasa muda, Aman bersekolah di Inlandsche School ‘Sekolah Bumiputera’ tahun 1906 hingga 1911. Kemudian dirinya menjadi guru di Solok Sumatera Barat tahun 1912 sampai 1914 dan guru Kelas II di Sulit Air, Padang tahun 1914 sampai 1919.
Tak puas dengan karirnya sebagai guru, Aman merantau ke Jakarta dan bekerja di toko buku. Karena suatu hal, ia malah keluar dan bekerja di Tanjung Priuk, sebagai kuli bercita-cita menjadi pengarang dan ingin menjadi redaktur dan penerjemah buku anak-anak ke dalam bahasa Melayu.

Karena keinginannya itu, ia mengikuti kursus bahasa Belanda sore hari di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara). Saat mengikuti kursus, ia tinggal di rumah ibu Sarimun, keluarga Betawi di Meester Cornelis
Aman Datuk Madjoindo termasuk karyawan yang rajin, tetapi kurang memperhatikan kesehatan. Akibatnya, ia sakit paru-paru dan harus dirawat di Sanatorium Cisarua, Bogor

Terdorong oleh keinginannya mengisi majalah mingguan Pandji Poestaka, setelah keluar dari Sanatorium Cisarua, ia mengarang cerita anak-anak bertema anak Betawi asli yang enggan bersekolah dan hanya mengaji saja. Dalam cerita tersebut, anak-anak Betawi digambarkan sebagai sosok yang hanya mau mengaji, tertinggal dari anak-anak suku lainnya.

Cerita anak Betawi tersebut kemudian diberi judul Si Doel Anak Betawi yang ditulis selama tiga bulan dengan menggunakan dialek Betawi. Dalam pendahuluan buku tersebut, ia menggunakan dialek Betawi untuk memperkenalkan kepada masyarakat baik di Jakarta maupun daerah lainnya.

Aman menambah daftar panjang para penulis karya sastra berdarah Minangkabau yang menguasai era keemasan karya sastra klasik Indonesia. Namanya mengikuti jejak para penulis Minang lainnya seperti Marah Rusli (Sitti Nurbaya), Tulis Sutan Sati (Sengsara Membawa Nikmat), Hamka (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck), Abdul Muis (Salah Asuhan), Sutan Takdir Alisjahbana (Layar Terkembang), AA Navis (Robohnya Surau Kami), Chairil Anwar (kumpulan puisi), dll. Berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *