Universitas Muhammadiyah Surabaya Touring Motor Beri Penyuluhan Hukum ke Desa-Desa

Betawipos, Kediri – Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya (FH UM Surabaya) memberikan penyuluhan kepada masyarakat dengan cara touring motor. Konsep tersebut untuk menjangkau beberapa desa sasaran di Kediri.

“Dengan touring motor kami bisa berada lebih dekat untuk menyerap dan merasakan langsung situasi yang tengah berlangsung di tengah masyarakat,” terang dosen FH UMSurabaya, Dr. A. Basuki Babussalam pada Betawipos di Kediri, Minggu (21/2/2021).

Menurut Basuki, gagasan mengadakan touring penyuluhan hukum dilandasi keprihatinan tentang rendahnya pemahaman terkait hukum di masyarakat desa. Beberapa dosen di lingkungan FH Universitas Muhammadiyah Surabaya, kemudian berinisiatif melakukan penyuluhan ke beberapa desa di Kabupaten Kediri.

Basuki menjelaskan, kurangnya pemahaman terkait masalah hukum bahkan menjadi salah satu faktor terjadinya perselisihan antar sesama anggota keluarga. Banyak terjadi, terutama di pedesaan, adalah perselisihan soal harta waris.

“Karena pemahaman terkait hukum yang masih rendah, membuat perselisihan melebar menjadi konflik bahkan hingga melewati generasi berikutnya, dan itu akan berkembang menjadi kerumitan tersendiri,” terang Basuki.

Dosen UMS blusukan pakai motor, edukasi hukum warga desa di Kediri

Pada tahap awal, ada dua desa di Kabupaten Kediri yang menjadi target penyuluhan. Yakni Desa Medowo, Kecamatan Kandangan, yang berada di lereng Gunung Anjasmoro, dan Desa Kedawung, Kecamatan Mojo yang berada di lereng Gunung Wilis.

Masyarakat di kedua desa tersebut ternyata cukup antusias mengikuti dan memberikan apresiasi yang tinggi atas penyuluhan hukum yang dilakukan.

“Itu karena paparan yang kami sampaikan ternyata cukup dekat dengan permasalahan yang sering ditemui warga dan masih sering berlangsung,” ujar Anang Dony Irawan, SH, MH, dosen FH UM Surabaya yang juga turut dalam penyuluhan.

Di hadapan warga masyarakat yang hadir, Al Qodar Purwo Sulistyo, SH, MH, dosen lain dalam touring penyuluhan, memaparkan bahwa sebenarnya untuk menghindari potensi sengketa waris di kemudian hari, setiap orang dapat mempersiapkannya dengan membuat wasiat dan atau hibah pada saat masih hidup.

“Dalam Pasal 171 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam, mendefinisikan wasiat sebagai pemberian suatu benda dari pewaris kepada orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia. Wasiat ini dibuat pada saat pewaris masih hidup dan diserahkan kepada penerimanya setelah pewaris meninggal dunia,” terang Al Qodar.

Selain soal pembagian waris, penyuluhan juga memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait pentingnya perlindungan data pribadi, serta langkah-langkah pencegahan agar data pribadi tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *