Pencak Silat Beksi, Meski Jurusnya Mematikan Tapi Hanya Jadi Seni Pertunjukkan

Betawipos, Jakarta – Pencak Silat Beksi merupakan olahraga tradisional sekaligus warisan leluhur budaya suku Betawi. Meski demikian, pencak silat yang kondang di tanah Betawi ini hingga kini tak masuk sebagai salah satu cabang olahraga yang dilombakan. Beladiri ini justru lebih dianggap sebagai seni pertunjukkan semata.

Kepada Betawipos, Ketua Pembina Perguruan Pencak Silat (PPS) Perguruan Silat Beksi Merah (Red Beksi), H.Basyir Bustomi membeberkan kisah dan sejarah seni beladiri yang satu ini.

Ditemui di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (16/8/2021) H.Basyir menuturkan kisah lahirnya silat beksi bermula pada pertengahan abad ke-18 atau sekitar tahun 1850. Beladiri ini diperkenalkan Lie Tjeng Ok Bin Lie Ah Tjin, warga keturunan Tionghoa yang sudah lama menetap di Indonesia, yakni di daerah Dadap.

“Lie Tjeng Ok merupakan urutan dalam nasabnya Ki Marhali Bin Sainan, dan H.Godjalih Bin H.Gatong,” katanya.

Lie Tjeng Ok memperkenalkan dan mengembangkan silat aliran beksi hingga berkembang sampai sekarang. Kebetulan salah satu guru Haji Basyir bernama H.Hasbulloh Bin Maisin pernah belajar dengan Haji Godjalih bin Haji Gatong, bahkan belajar langsung dari Lie Tjeng Ok sendiri.

Dengan mengenakan setelan kaos berwarna jingga, celana silat warna merah dan peci kuning emas, H Basyir menyebut, jurus-jurus khas Silat Beksi lebih banyak menggunakan pukulan jarak dekat.

“Dikatakan Beksi karena pada kata ‘bek’ memiliki arti pertahanan. Sedangkan ‘si’ adalah empat penjuru (kanan, kiri, depan dan belakang). Sehingga diartikan empat pertahanan penjuru. Dalam bahasa Tionghoa, ‘bek’ sendiri memiliki arti kuda-kuda,” papar H Basyir.

Silat Beksi juga turut andil dalam masa perang kemerdekaan Republik Indonesia dan pembangunan bangsa. Kiprahnya sangat terasa melalui pembekalan oleh para guru ngaji kepada para santrinya. Sejak dulu para santri mempelajari silat untuk melindungi kampungnya sendiri. Namun ketika Belanda masuk ke Indonesia, pemerintahan kolonial melarang pelajaran Silat Beksi karena khawatir digunakan untuk melawan mereka.

Akibatnya, para ustadz mengajarkan beladiri tersebut secara sembunyi-sembunyi. Ini dilakukan dengan tujuan agar tidak terkesan ada pertemuan antar para guru silat.

“Sebab Belanda akan mencurigai pertemuan para guru silat bertujuan untuk mengadakan perlawanan,” ujarnya.

Meski demikian, mereka berusaha tetap melestarikan Silat Beksi dan menjaga keberadaannya sebagai warisan seni budaya Betawi.

Perkembangan terakhir Silat Beksi

Perkembangan terakhir Perguruan Silat Beksi saat ini sudah mencapai 50 koordinator latihan (korlat), dengan jumlah anggota mencapai lebih dari 300-an orang di seluruh Jakarta. Usia termuda anggota yang berlatih adalah 5 tahun, dan tertua 72 tahun. Yang sangat disayangkan, jumlah anggota perempuan tak lebih dari 25 orang. Padahal, beladiri sebenarnya sangat penting bagi kaum hawa.

Umumnya, seseorang bisa menguasai silat beksi dalam waktu 3,5 tahun dengan latihan rutin tiga kali dalam seminggu dan mengikuti ujian secara bertahap. Kekhususan dari jurus silat beksi adalah full power, jenis pukulan , sikutan, dan teknik aplikasi jurus serta manfaatnya. Sayangnya, pihak pengurus menonaktifkan sementara latihan selama pandemi Covid-19.

Pusat Perguruan Pencak Silat Beksi sendiri berada di jalan Kramat II No.16 RT:01 RW:03 Kebayoran Lama Utara, kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dari 50 korlat yang ada, sebagian besar berada di wilayah Jakarta Selatan lantaran perkembangan pencak silat ini dimulai dari Petukangan, lalu meluas ke Jakarta Timur dan Cengkareng-Jakarta Barat. Sementara perkembangannya di Jakarta Pusat berada di Kecamatan Johar Baru.

Karena Silat Beksi lebih terfokus pada unsur seni tradisional, maka perguruannya tidak masuk dalam organisasi olahraga IPSI. Akibatnya, Silat Beksi tidak dipertandingkan, melainkan hanya menjadi atraksi yang menyuguhkan urus dan gerakan semata.

“Permainan pukulan dan semua jurus yang ada di silat Betawi tidak kalah dengan beladiri impor. Karena itu kita dan semua generasi muda jangan hanya menang gengsi dengan bela diri dari luar. Sebab beladiri tradisional juga tidak kalah hebatnya,” ujar Haji Basyir Bustomi selaku Ketua Pembina Perguruan Pencak Silat (PPS) Perguruan Silat Beksi Merah (Red Beksi).

Haji Basyir sendiri hingga kini masih aktif mengajar di perguruan Bambu Apus, Jati Waringin, Cengkareng, Pondok Indah, Cipete, Kebayoran, dan Tanah Kusir. Beliau merupakan putra Betawi asli. Sang ibu bernama Hajah Fatimah Binti KH. Satiri asal Kebayoran dan ayah bernama Haji Bustomi Bin Haji Khosin.

Dirinya aktif menggeluti pencak silat tersebut sejak duduk di bangku SMA tahun 1985. Ia memiliki 3 orang anak, namun diantara ketiga anaknya, hanya anak yang kedua yang mengikuti jejaknya menggeluti dunia persilatan.
Selain aktif di perguruan H. Basyir juga aktif di Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Perkumpulan Perguruan-Perguruan atau Paguyuban Betawi.

Dirinya berharap, Pemprov DKI Jakarta bisa memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian budaya Betawi seperti Pencak Silat ini. Harapan itu bisa dilakukan dengan menjadikan Beksi sebagai bagian kegiatan ekstra kurikuler di sekolah-sekolah.

HUT RI dan PPKM

Terkait momen HUT RI ke-76, tanggal 17 Agustus 2021 sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia adalah hal penting yang harus bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

“Saat ini kita tinggal mengisi dan mempertahankan kemerdekaan demi kemajuan bangsa. Dan seni budaya adalah salah satu modal bagi kita untuk turut andil di dalamnya”, pesan Haji Basyir.

Kondisi PPKM yang terus diperpanjang ini, dirinya menganggap sebagai upaya agar pandemi Covid-19 ini bisa berakhir di Indonesia. Karena itu pula sebagai bentuk upaya (ikhtiar), Haji Basyir berniat melakukan vaksin.

“Besok saya baru mau vaksin Covid-19. Ini sebagai bagian dari ikhtiar warga untuk mengurangi dan mencegah pandemi”, ujar Haji Basyir mengakhiri perbincangan. San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *